Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

REPUBLIK ORANG-ORANG EGOIS


Kita semua yang membuat bencana semakin liar. Entah itu bencana manusia, ataukah bencana alam yang semakin mengerikan setiap harinya, itu adalah ulah kita.

Kita yang membuat dan mendorong atau melanggengkan itu semua. Kenapa begitu susahnya sedikit saja untuk jujur akan hal ini? Dan itulah yang membuat kita menjadi pembunuh masing-masing dari kita. Dan sialnya, tidak ada yang mau disalahkan! Itulah keburukan para manusia yang hidup dinegara ini.

***

Banjir di Pasuruan.
Siapa yang membuat banjir itu?
Apakah alam? Apa kepentingan alam terhadap manusia?
Siapa yang hari ini tinggal di Pasuruan dan berkepentingan akan daerah tersebut? Dan kini, sejumlah wilayah di Kabupaten Pasuruan tenggelam. Rumah warga, harta benda, dan barang-barang manusia itu terendam sangat dalam oleh air. Siapa yang salah? Pemerintah, pejabat, ataukah diri kita yang terlalu cuek, abai dan berlagak sombong dihadapan dunia?

Sebagian dari kitalah yang hidup disana menumpang di alam yang dulu liar, dan ketika alam sedang menstabilkan diri, kita terluka dan marah. Kenapa tidak jauh-jauh hari kita menegur pemerintah, membantu pemulihan pohon, atau melakukan daya upaya yang selaras dengan alam?

Kenapa kita menangis, marah, tak terima, saat bencana datang kepada kita? Tidakkah kita yang juga membuat bencana itu? Kenapa kita tidak mau menerima tanggung jawab ini?

***

Ada orang yang berkata; aku mencintai kemanusiaan. Hanya sekedar berkata, dan itulah manusia Indonesia. Sekedar berkata dikira sudah cukup dan selesai semua permasalahan serta tanggung jawab. Dan lihatlah, dunia yang kacau di depan mata kita karena kita semua dengan mudahnya melepas tanggung jawab sebagai orang-orang yang membuat masalah.

Tidakkah lebih baik mengakui; aku sedang mencoba, tapi aku gagal? Karena masalah kesehatan, kejiwaan, masalah perekonomian dan lain sebagainya. Tapi yang jelas itu berarti kita gagal. Mau beralibi dan berceloteh macam apapun, nyatanya kita gagal, ya gagal. Apa susahnya mengakui kegagalan? Tidak ada salahnya mengakui bahwa kita gagal, karena kegagalan adalah awal keberhasilan. Oh ya, kita hidup di negara yang manusianya terserang sindrom menjadi orang-orang baik. Mempertahankan citra semacam itu serta tak mau mengakui kegagalan dan kesalahannya.

Itulah kenapa hampir selama ini sejak kemerdekaan, dunia kita tidak mengalami perubahan yang signifikan. Dari seputar bencana alam, korupsi, suap, masalah lingkungan dan semacamnya. Kian hari, kian terasa parah dan mengerikan. Lalu apakah kita masih bisa membanggakan diri kita sendiri? Membanggakan diri di depan anak cucu kita kelak? Tidakkah itu kebanggaan terkejam yang harusnya tak diampuni oleh generasi mendatang?

Kita mewariskan bumi yang hancur, udara yang panas, tanah yang retak, segala jenis hewan dan serangga yang punah, serta sungai yang tercemar. Kegilaan macam apakah ini? Masyarakat macam apa yang kita tinggali saat ini?

Sejujurnya, masyarakat ini yang terlalu buta dan tak warasnya. Dan kita hidup, di sebuah negara yang masyarakatnya sangat membanggakan kekacauan dalam berpikir. Dan kekayaan yang besar tak menjamin seseorang dewasa, bijak, kreatif, dan jujur.

Karena itu, seperti inilah negara yang kita tinggali; Republik orang-orang egois.

***

Ah, sekian banyak yang sudah kusampaikan perihal betapa egoisnya manusia-manusia Republik Indonesia. Dalam hal itu, bukan berarti aku; yang telah menulis kata atau kalimat sarkas tersebut adalah manusia maha baik, aku termasuk salah satu dari sekumpulan manusia egois itu.

Dan aku, gadis 16 tahun yang masih berpetualang mencari jati diri ini, mohon maaf jika ada yang kurang berkenan. Terima kasih.

Penulis : Khansa Kamila A. P

Posting Komentar untuk "REPUBLIK ORANG-ORANG EGOIS"